Log in to Webshots

Login
Get Adobe Flash player

Connect with Facebook to Continue

Hello, facebook user. logout

You are signed in to your Facebook account. Share this photo by posting it on your wall, or by choosing a friend below and posting it on their wall. (one friend at a time)

Album Info:

The Way of the Cross PASKAH UK PETRA 2006 “Seks itu oke dan gadis-gadis baik pun suka seks” Itulah perkataan bos PLAYBOY, Hugh Hefner yang dimuat Jawa Pos 11 April yang lalu. Tidak hanya itu, Hefner juga mengaku melihat banyak kemunafikan dan ia ingin melakukan sesuatu untuk melawannya. Berdasarkan hal itulah maka majalah Playboy berdiri dan melebarkan sayapnya hingga saat ini. Hefner tampaknya melihat masalah yang benar (kemunafikan) tetapi memberikan solusi yang salah dengan langkah hidupnya. Setuju dengan Hefner, dunia ini memang penuh dengan kemunafikan. Lebih jujur lagi rasanya jika kita mengakui bahwa kadang-kadang kita juga terlibat di dalamnya dalam taraf tertentu. Kemunafikan tercermin dari jarak antara apa yang kita katakan dengan apa yang kita lakukan. Bukankah kita semua pernah terjatuh dalam dosa ini? Dalam perayaan Paskah yang baru saja berlalu, kita banyak menaikkan kata-kata pujian kepada Yesus karena jalan salib yang Dia tempuh untuk menanggung dosa kita. Kita mengatakan bahwa salib adalah jalan yang melaluinya kemuliaan Allah dinyatakan. Tanpa salib yang hina tidak ada kebangkitan yang mulia. Walaupun demikian, apakah kita benar-benar percaya bahwa jalan salib adalah jalan yang terbaik juga untuk kita jalani? Atau jalan salib hanya baik bagi Yesus saja dan bukan untuk kita? Yang pasti Yesus berkata ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus...memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk. 9:23). Memikul salib berarti mengambil komitmen total sampai rela mati bagi Yesus. Jika seseorang tidak memikul salib maka Yesus berkata ”ia tidak layak bagi-Ku” (Mat. 10:38). Jadi, bagaimana kita harus menjalankannya? Komitmen total untuk Yesus ini pertama-tama harus terwujud melalui kehidupan yang menyalibkan dosa. Roma 6:6 berkata ”Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa”. Orang-orang Kristen yang munafik memang suka memakai simbol-simbol salib tetapi tidak suka menyalibkan dosanya. Mereka suka hukuman dosanya dihapuskan tetapi tidak suka meninggalkan kenikmatan dosa. Bukankah kita semua masih jatuh dalam dosa? Tentu saja! Bukankah Allah mengasihi kita yang telah berjuang hidup kudus walau kadang masih jatuh? Ya benar! Tetapi, jika kita lebih sering jatuh daripada berdiri, itu adalah tanda bahwa kita masih anak-anak dalam iman walaupun secara kronologis kita sudah dewasa. Kita memang perlu lebih banyak mencerna firman Tuhan daripada tayangan televisi yang tidak bermutu. Kita perlu lebih banyak latihan rohani yang memperindah hati dan pikiran, tidak hanya latihan fisik. Di sisi lain, salah satu masalah utama yang menyebabkan kita sulit menyalibkan dosa adalah karena kita enggan kehilangan kenikmatan dosa itu sendiri. Bukankah dosa itu asyik dan kebenaran itu membosankan? Inilah kebohongan besar yang menjangkiti banyak orang termasuk orang Kristen. Banyak orang tidak tahu bahwa melakukan dosa itu memang ”menyenangkan” tetapi meninggalkan dosa itu jauh lebih menyenangkan pada akhirnya. Sebagaimana kehidupan yang bermakna lebih nikmat daripada kehidupan sukses, maka kehidupan kudus juga jauh lebih nikmat daripada kehidupan dosa. Ada kenikmatan yang besar ketika kita berusaha menyenangkan hati Allah dalam hidup kita. Kita bisa menyebutnya Christian hedonism-meminjam istilah John Piper. Jika Anda bersedia melepaskan kenikmatan dosa, Anda akan mengalami sukacita yang melampaui yang Anda rasakan sebelumnya di dalam dosa. Anda tidak percaya? Buktikan sendiri! Berikutnya, jalan salib berarti juga komitmen total untuk menjalankan kehendak Allah dalam hidup kita. Yesus sendiri bergumul di jalan salib untuk menjalankan kehendak Allah dalam doa-Nya di taman Getsemani (Mat. 26:39). Komitmen total ini tidak mungkin kita miliki jika kita berusaha menjalankan kehendak daging yang penuh nafsu duniawi dan kehendak Allah sekaligus. Alkitab menegaskan bahwa tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan (Mat. 6:24). Yesus sebagai Allah tidak dapat secara bersamaan ”disembah” bersama dengan uang, kenikmatan, kedudukan, popularitas atau pasangan kita. Apakah ini berarti kita tidak boleh menjadi orang Kristen yang kaya, punya kedudukan tinggi, menikmati hidup, populer dan punya pasangan yang cantik/tampan? Tentu saja tidak! Dunia dan segala yang ada di dalamnya bukanlah lawan (antitesis) dari kekristenan sebagaimana paham Christ against culture. Tetapi jika tujuan hidup kita adalah mengejar hal-hal duniawi tersebut, maka kita sedang berproses untuk menyembahnya. Jika kita mulai menyembah dunia, maka kita sedang meninggalkan jalan salib karena jalan salib adalah jalan yang eksklusif, sebuah komitmen total hanya kepada Allah. Melalui Paskah yang telah kita rayakan, marilah kita bersama-sama menyerahkan hidup kita sekali lagi untuk hanya menjalankan kehendak Allah, dan meninggalkan kehendak daging yang penuh nafsu duniawi. Jalan salib memang jalan yang sulit, tetapi ada kemuliaan yang menanti kita di surga. Bukankah Yesus sudah menempuh jalan salib dan berakhir dengan kemuliaan? Janji yang sama diberikan Allah kepada kita. Apakah kita bersedia menyalibkan dosa dan ambisi duniawi kita? Apakah kita mau hidup di jalan salib-Nya? Sukacita dan kemuliaan menanti kita! Selamat Paskah! Bedjo, S.E., M.Div.

Sample Email

Below is what we'll send to your friends to invite them - edit or remove the optional note.

No comments so far...

To be able to leave a comment please Log in or Sign up.